Sunday, 30 October 2016

Berbicara Cinta #2: Perihal Komitmen


“Cinta itu nggak butuh alasan. 
Bertahan dalam cintalah yang membutuhkan alasan.”

Pernyataan itu saya tuliskan saat salah seorang sahabat meminta saya membuat sebuah “kata-kata puitis” untuk ia kirimkan pada seseorang. Sebenarnya saya nggak berniat untuk memberikan dua kalimat itu. Ada 3 kalimat lainnya yang saya tawarkan untuk ia pilih. Namun, sahabat saya menilai kalimat terakhir itulah yang paling tepat.

Saya sendiri merasa tertampar membaca dua rangkai kalimat itu. Selama beberapa bulan terakhir, sejak tulisan pertama saya: Berbicara Cinta, saya berkontemplasi. Saya berusaha memaknai apa itu cinta dan bagaimana sebenarnya bentuk relasi antara dua orang yang sedang jatuh cinta. Pencarian saya ini justru sempat membuat saya menjadi skeptis terhadap cinta.

Lalu saya menyadari bahwa kunci dalam sebuah hubungan adalah komitmen. Bagi saya, komitmen adalah sebuah kedewasaan. Kedewasaan dalam berpikir dan berperilaku. Ketika kita berkomitmen untuk menjalin hubungan dengan seseorang, itu artinya kita bersedia untuk menjaga perasaan satu sama lain. Apapun yang terjadi, kita tetap bertahan dalam hubungan itu. Komitmen itulah yang membuat sebuah pernikahan bisa bertahan sampai akhir usia.

“Love is an act of endless forgiveness.”

Saya pernah mengirimkan kutipan tersebut dalam beranda Line saya. Kemudian muncul dua buah komentar:

“Jadi, cinta itu penuh pemakluman?”
“Kasih pasti memaafkan. Kasih pasti lemah lembut. Kasih pasti murah hati.”

Keduanya sama-sama membuat saya tertegun. Dalam satu waktu saya berpikir bahwa dua komentar itu ada benarnya. Hingga akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa mencintai dan memaafkan itu adalah dua hal berbeda yang berjalan beriringan.


"Memaafkan adalah bagian dari 
cara kita menjaga komitmen dalam cinta."

Manusia adalah tempat salah dan lupa. Manusia; kita adalah makhluk yang tidak sempurna. Karena cinta, kita dapat dengan tulus memaafkan kesalahan seseorang. Bagi saya, hal ini yang membuat cinta begitu indah. Cinta itu merengkuh jiwa; lebih hingga kurangnya seseorang yang kita cinta, dapat kita terima.

Tapi apakah kata “maaf” cukup untuk membuat kita bertahan dalam sebuah hubungan?
Tentu saja tidak, menurut saya.

Setiap orang memiliki batas untuk beberapa hal. Setiap orang juga memiliki pandangan yang berbeda perihal komitmen dalam sebuah hubungan. Jika diperlukan alasan untuk membuat sebuah hubungan bertahan, tentu perlu pula alasan untuk membuat sebuah hubungan berakhir.

Sebab manusia itu hanya makhluk yang bisa berencana, penentu akhir ialah Sang Pemilik Cinta. Bisa jadi dua orang yang sudah bertahun menjalani hubungan, tiba-tiba harus berakhir karena alasan yang tidak terduga. Bisa jadi pula, dua orang yang baru bertemu tiba-tiba saja saling jatuh cinta dan yakin untuk menjalani hubungan yang lebih serius. Menjalin kedekatan dan berkomitmen dengan seseorang adalah sebuah proses pembelajaran yang tidak akan pernah berhenti.

Satu hal yang saya pelajari dalam pencarian saya tentang cinta adalah belajar mengelola ekspektasi. Sebab, sebaik-baiknya berharap adalah hanya pada-Nya. 

“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” 
– Q.S. Al Insyirah ayat 8.


*Ini adalah tulisan kedua saya dalam serial Berbicara Cinta. 
Serial ini ditulis dalam rentang waktu yang tidak terduga a.k.a suka-suka penulis.

Salam, 
Nisrina

5 comments:

  1. OMG Nisrina! Kata-katamu sungguh quote-able, izin buat ditempel di reminder yaaaahhh :3

    ReplyDelete
  2. Aaaaaaaakh, gilaaa pandanganmu akan cinta kayaknyaa expert ya :) hihih bener-bener. kata-katamu keren, Nis :)

    Mempertahankan pada dasarnya memang sesuatu hal yang sulit ngets sih ._.

    ReplyDelete
  3. "Satu hal yang saya pelajari dalam pencarian saya tentang cinta adalah belajar mengelola ekspektasi. Sebab, sebaik-baiknya berharap adalah hanya pada-Nya."

    Clossing statement nya favorit ku, Mbak :)

    ReplyDelete

What's your opinion after reading this post?