Monday, 6 February 2017

Tetralogi Buru dan Hal-hal yang Mengganggu Saya



“Dan selama ada yang diperintah dan memerintah, dikuasai dan menguasai, orang berpolitik.” 
– Rumah Kaca.

Di awal tahun ini saya merasa telah memecahkan sebuah rekor untuk diri sendiri. Kurang dari satu bulan, saya telah berhasil menyelesaikan Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. 

Ada dua alasan kuat kenapa saya menyebutnya demikian.

Wednesday, 25 January 2017

Berhenti Menulis


Saya merasa, saya ingin berhenti menulis. 

Sejak penghujung 2016 hingga saat ini, saya menenggelamkan diri pada bacaan fiksi yang cukup serius. Bagi teman-teman yang secara pribadi terhubung dengan media sosial saya yang lain, seperti Twitter dan Instagram, akan tahu pasti bacaan-bacaan saya itu. Selain keinginan pribadi untuk belajar mencintai dan menyelami sastra, mungkin itu adalah cara saya melarikan diri. Saya sedang kabur dari keinginan saya untuk menulis. 
Iya, saya sedang merasa kesulitan untuk menulis.

Sunday, 30 October 2016

Berbicara Cinta #2: Perihal Komitmen


“Cinta itu nggak butuh alasan. 
Bertahan dalam cintalah yang membutuhkan alasan.”

Pernyataan itu saya tuliskan saat salah seorang sahabat meminta saya membuat sebuah “kata-kata puitis” untuk ia kirimkan pada seseorang. Sebenarnya saya nggak berniat untuk memberikan dua kalimat itu. Ada 3 kalimat lainnya yang saya tawarkan untuk ia pilih. Namun, sahabat saya menilai kalimat terakhir itulah yang paling tepat.

Saya sendiri merasa tertampar membaca dua rangkai kalimat itu. Selama beberapa bulan terakhir, sejak tulisan pertama saya: Berbicara Cinta, saya berkontemplasi. Saya berusaha memaknai apa itu cinta dan bagaimana sebenarnya bentuk relasi antara dua orang yang sedang jatuh cinta. Pencarian saya ini justru sempat membuat saya menjadi skeptis terhadap cinta.

Thursday, 15 September 2016

Book Review: Menemukan Cinta dan Realita dalam Cantik itu Luka dan Pasung Jiwa


“Pikiran kerap hanya terbangun oleh tempelan-tempelan yang kita ambil atau dipaksa masuk oleh sekitar kita. Sementara tubuh selalu diperlakukan sebagai pengikut pikiran. Ia tak hadir dengan kewenangan. Maka ketika tubuh bergerak sendiri, lepas dari pikiran, selalu dianggap sebagai pembangkangan.”
– Sasana, Pasung Jiwa, halaman138.

Dua buah novel ini saya baca dalam rentang waktu yang cukup berjauhan. Cantik itu Luka, adalah buku yang baru selesai saya baca. Sementara Pasung Jiwa saya baca sekitar lima bulan lalu. Cukup lama ternyata, ckckckck.

Sejujurnya, saya merasa was-was saat membaca dua novel ini. Selain karena tebal halamannya, judul dan covernya tidak terlalu menarik perhatian saya. Terlepas dari ulasan beratus-ratus orang yang memuji dua novel ini, saya benar-benar harus memaksa diri saya untuk membaca dan menyelesaikannya.

Thursday, 26 May 2016

(Aku tidak suka) AADC #2


“Akhirnya kau hilang. Kau meninggalkan aku –
dan kenangan kini satu-satunya masa depan yang tersisa.”
- Tidak Ada New York Hari Ini (halaman 71).

Aku tidak pernah berharap untuk lekas-lekas melupakanmu.